Lebih Afdhol Berdoa di Hajar Aswad atau Multazam?
Di sekitar Ka’bah terdapat beberapa tempat yang memiliki keutamaan khusus. Dua di antaranya yang paling dikenal jamaah adalah Hajar Aswad dan Multazam.
Keduanya sering kali menjadi tujuan jamaah untuk beribadah dan memanjatkan doa. Namun, muncul pertanyaan: lebih afdhol berdoa di Hajar Aswad atau Multazam?
Jawabannya perlu dipahami dengan melihat amalan yang dituntunkan pada masing-masing tempat.
Hajar Aswad, Tempat yang Disyariatkan untuk Diusap atau Dicium
Hajar Aswad merupakan batu yang berada di salah satu sudut Ka’bah dan menjadi titik dimulainya setiap putaran thawaf.
Rasulullah ﷺ memberikan contoh untuk mengusap atau mencium Hajar Aswad ketika memungkinkan. Jika tidak memungkinkan karena kondisi yang padat, jamaah dapat memberikan isyarat kepadanya sambil bertakbir.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَافَ بِالْبَيْتِ وَهُوَ عَلَى بَعِيرٍ، كُلَّمَا أَتَى عَلَى الرُّكْنِ أَشَارَ إِلَيْهِ بِشَيْءٍ فِي يَدِهِ وَكَبَّرَ
Rasulullah ﷺ melakukan thawaf di Baitullah. Setiap kali melewati Hajar Aswad, beliau memberikan isyarat kepadanya dengan sesuatu yang ada di tangannya kemudian bertakbir. (HR. Bukhari).
Karena itu, ketika sampai di Hajar Aswad, amalan yang paling jelas tuntunannya adalah mengusap, mencium, atau memberikan isyarat sambil bertakbir.
Bukan berarti jamaah tidak boleh berdoa kepada Allah di dekat Hajar Aswad. Berdoa kepada Allah boleh dilakukan kapan saja dan di mana saja. Namun, tidak ada doa khusus yang secara sahih ditetapkan untuk dibaca ketika mencium Hajar Aswad.
Lalu, Apa Itu Multazam?
Multazam adalah bagian dinding Ka’bah yang berada di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.
Nama Multazam berasal dari kata iltazama, yang bermakna merapat atau menempel.
Di tempat inilah terdapat riwayat mengenai amalan merapatkan dada, wajah, kedua lengan, dan telapak tangan ke dinding Ka’bah sambil berdoa kepada Allah.
Dalam riwayat yang dinukil dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma, beliau memperlihatkan cara tersebut dan mengatakan:
هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَفْعَلُهُ
“Demikianlah aku melihat Rasulullah ﷺ melakukannya.”
Ada pula atsar dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma mengenai Multazam:
مَا بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْبَابِ يُدْعَى الْمُلْتَزَمَ
“Antara rukun (Hajar Aswad) dan pintu (Ka’bah) disebut Multazam.”
Riwayat mengenai keutamaan doa di Multazam memang dibahas oleh para ulama, termasuk dari sisi kekuatan sanadnya. Karena itu, tidak tepat menganggap ada jaminan pasti bahwa setiap doa yang dipanjatkan di Multazam pasti dikabulkan. Namun, Multazam dikenal dalam pembahasan para ulama sebagai tempat yang memiliki keutamaan untuk berdoa.
Jadi, Lebih Afdhol Berdoa di Mana?
Kalau pertanyaannya adalah “di mana lebih khusus untuk berdoa?”, maka Multazam lebih tepat.
Sebab, amalan yang dikaitkan dengan Multazam adalah berdoa kepada Allah dengan merapatkan diri ke dinding Ka’bah.
Sedangkan Hajar Aswad memiliki amalan khusus yang lebih jelas tuntunannya, yaitu mengusap, mencium, atau memberi isyarat sambil bertakbir ketika thawaf.
Jadi, jangan sampai jamaah justru menghabiskan waktu di Hajar Aswad untuk berdoa panjang sehingga mengganggu arus thawaf atau mendorong jamaah lain.
Hajar Aswad → fokus pada sunnah thawaf.
Multazam → tempat yang dikenal untuk berdoa.
Keduanya sama-sama memiliki keutamaan, tetapi jenis ibadah yang lebih ditekankan berbeda.
Tidak Perlu Memaksakan Diri
Hal yang juga penting adalah tidak berdesak-desakan untuk mendapatkan tempat di Multazam atau Hajar Aswad.
Jika kondisi sangat ramai dan tidak memungkinkan untuk mendekat, jamaah tidak perlu memaksakan diri. Bahkan ketika Hajar Aswad tidak memungkinkan untuk disentuh, Rasulullah ﷺ memberikan contoh dengan memberikan isyarat kepadanya dan bertakbir.
Begitu pula dengan Multazam. Jika kondisi tidak memungkinkan untuk merapat ke dinding Ka’bah, jamaah tetap dapat berdoa kepada Allah dari tempat yang aman tanpa menyakiti atau mengganggu jamaah lainnya.
Karena pada akhirnya, yang paling utama bukan sekadar berhasil menyentuh tempat tertentu, tetapi bagaimana ibadah dilakukan sesuai tuntunan dan dengan tetap menjaga adab kepada sesama jamaah.
Bagi jamaah Umroh yang berkesempatan berada di depan Ka’bah, momen tersebut dapat menjadi kesempatan untuk memperbanyak doa. Tidak harus dengan doa yang panjang atau rumit. Berdoalah kepada Allah dengan penuh ketundukan, memohon kebaikan dunia dan akhirat, serta meminta agar perjalanan ibadah yang telah dilakukan diterima oleh-Nya.
Binbaz Tour & Travel berkomitmen mendampingi jamaah Umroh agar dapat menjalankan rangkaian ibadah dengan lebih tenang, tertib, dan sesuai tuntunan syariat dan sunnah.