Mengapa Ka’bah Berbentuk Kubus? Ini Sejarah dan Maknanya
Ketika melihat Ka’bah, salah satu hal yang paling mudah dikenali adalah bentuknya yang khas. Bangunan yang menjadi kiblat umat Islam ini memiliki bentuk menyerupai kubus dengan empat sisi yang mengarah ke berbagai penjuru.
Namun, pernahkah terpikir mengapa Ka’bah berbentuk seperti itu? Apakah bentuk tersebut memang sejak awal dibuat demikian?
Ka’bah Dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
Ka’bah merupakan bangunan yang sangat mulia dalam Islam. Allah Ta’ala menyebutnya sebagai Al-Bait, rumah-Nya yang menjadi tempat manusia beribadah kepada-Nya.
Dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman:
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama Ismail, (seraya berdoa), ‘Ya Rabb kami, terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’” QS. Al-Baqarah: 127
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim 'alaihissalam dan Nabi Ismail 'alaihissalam membangun dan meninggikan fondasi Ka’bah atas perintah Allah.
Mengapa Bentuknya Seperti Kubus?
Secara umum, bentuk Ka’bah yang terlihat saat ini merupakan hasil dari berbagai pembangunan dan renovasi sepanjang sejarah. Bentuknya tidak harus dipahami sebagai “kubus sempurna” seperti yang biasa kita bayangkan dalam geometri.
Nama Ka’bah sendiri berkaitan dengan bentuk bangunan yang tinggi dan memiliki sisi-sisi yang menonjol.
Dalam sejarahnya, Ka’bah juga pernah mengalami perubahan bentuk. Salah satu peristiwa penting terjadi ketika kaum Quraisy membangun kembali Ka’bah sebelum masa kenabian Rasulullah ﷺ.
Karena keterbatasan dana yang mereka anggap halal untuk pembangunan, sebagian area yang sebelumnya termasuk bagian bangunan Ka’bah tidak mereka masukkan dalam pembangunan. Area tersebut kemudian dikenal sebagai Hijr Ismail.
Ka’bah Memiliki Empat Sudut
Ka’bah memiliki empat sudut yang dikenal dengan nama:
- Rukun Hajar Aswad
- Rukun Iraqi
- Rukun Syami
- Rukun Yamani
Keempat sisi tersebut membuat Ka’bah memiliki bentuk yang khas dan menjadi bangunan yang dapat dikenali dari berbagai arah.
Menariknya, posisi Ka’bah juga berkaitan erat dengan ibadah umat Islam. Di mana pun seorang Muslim berada, ia menghadap ke arah Ka’bah ketika melaksanakan shalat.
Bentuk Ka’bah Bukan Inti dari Ibadah
Meskipun bentuk Ka’bah memiliki sejarah yang menarik, yang paling penting bukanlah bentuk fisiknya.
Ka’bah menjadi pusat perhatian umat Islam karena Allah Ta’ala menjadikannya sebagai kiblat dan tempat ibadah.
Allah Ta’ala berfirman:
فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
“Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.” QS. Al-Baqarah: 144
Karena itu, ketika seorang Muslim menghadap Ka’bah, ia tidak sedang menyembah Ka’bah. Ibadah tetap ditujukan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ka’bah menjadi arah yang menyatukan umat Islam dalam shalat, thawaf, dan berbagai ibadah yang dilakukan di Tanah Suci.
Dari Berbagai Penjuru, Satu Kiblat
Salah satu hal yang begitu indah dari Ka’bah adalah bagaimana bangunan ini menjadi titik yang menyatukan umat Islam dari berbagai penjuru dunia.
Jamaah dari Indonesia, Afrika, Eropa, Asia, Timur Tengah, dan berbagai belahan dunia lainnya datang ke Masjidil Haram dengan bahasa dan budaya yang berbeda.
Namun ketika shalat, semuanya menghadap ke satu arah.
Ketika thawaf, semuanya mengelilingi satu bangunan yang sama.
Dan ketika berada di hadapan Ka’bah, seorang Muslim diingatkan bahwa kemuliaan bukan terletak pada asal negara, bahasa, maupun kedudukan, tetapi pada ketakwaan kepada Allah.
Bagi jamaah yang berkesempatan melaksanakan Umroh, melihat Ka’bah secara langsung tentu menjadi salah satu momen yang sangat berkesan. Binbaz Tour & Travel berkomitmen mendampingi perjalanan Umroh jamaah dengan pelayanan yang nyaman, rombongan kecil, serta pendampingan yang sesuai syariat dan sunnah.